canon g7x mark II

Review Canon G7X mark II, Kamera Terbaik Untuk Vlogger

Posted on

Mengapa masih butuh kamera saku untuk membuat video atau merekam vlog kalau telah memiliki hp canggih atau kamera GoPro? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengacu pada vlogger Casey Neistat yang mengatakan bahwa tiap kamera memiliki karakternya sendiri.

canon g7x mark II
Gambar Kamera Canon G7x Mark II | via kamerakamera.net

Storytelling atau sistem bercerita konsisten utama dikala membuat video, tetapi mengembangkan keunggulan masing-masing perangkat (hp, GoPro, kamera saku, DSLR/mirrorless) akan membuat video jadi lebih kaya.

Sesudah mencoba Canon G7X mark II selama hampir 5 bulan terakhir, tidak berpikir-pikir lagi bagi saya untuk mewujudkan kamera tersebut sebagai kamera utama. Yaitu kamera untuk vlog, kamera ini telah lebih dari cukup. Ada beberapa hal yang saya sangat suka sekaligus menjawab faktor pembeda G7X mark II dengan DSLR, hp, GoPro, atau mirrorless lainnya.

Pertama, form faktor yang sangat kompak dan ringkas. Lebih kompak dari mirrorless yang saya miliki sebab lensanya tidak menonjol keluar. Desain bodi metal-nya juga kokoh, ringan, dan hampir tidak terasa di backpack. Di genggamnya malah cukup nyaman, memang kecil ukurannya. Layar sentuh 3 incinya dapat dilipat keatas 180° atau kebawah 45° yang penting dikala vlogging. 5 tombol dengan satu cincin putar dan D-pad untuk navigasi

Kedua, saya menyenangi dengan hasil dari gambarnya. Lensa dengan bukaan diafragma lensa f/1.8-2.8 mm berfungsi cukup baik di kondisi minim cahaya. Begitupun dikala memfoto wide dengan lensa sudut lebar 24mm, atau mendapatkan efek bokeh (blur dibelakang objek) melewati kecakapan zoom optical 4.2x yang membuatnya seimbang dengan lensa (24-100mm di kamera 35mm).

Sektor lensanya malah dilengkapi dengan tambahan sebuah cincin putar, contohnya untuk pembatasan fokus manual atau akses ke pilihan pembatasan dengan cepat. Fitur ini jarang saya gunakan, dan mungkin kedepannya akan saya optimalkan.

Tapi kunci dari kenyamanan G7X mark II untuk merekam video yaitu fitur image stabilization Dual Sensing IS. Membikin lebih gampang untuk meggunakan teknik panning, sebab meminimalkan blur pengaruh goyangan tangan atau shaking.

Masih banyak fitur teknis yang dapat sangat panjang kalau saya beberkan satu demi satu. Contohnya kecakapan dengan meraba zona layarnya saja melewati fitur touch/focus shutter, saringan ND terintegrasi, kecakapan memfoto dalam bentuk RAW, konektivitas WiFi dan NFC untuk memindah foto atau video ke hp, dan masih banyak lagi.

menurut penilaian dari saya sensor CMOS 20.1 megapixel berukuran 1 inci dan prosesor DIGIC 7 berfungsi optimal di kamera saku ini untuk melaksanakan fitur berat seperti memfoto tanpa henti 8fps, mengendalikan noise di ISO tinggi (sampai ISO 12800-25600), serta merekam video di resolusi Full HD 60fps yang selalu saya gunakan.

Kekurangan kamera ini tentu saja tidak ada selot hot-shoe dan headphone jack 3.5 mm untuk menambah mikropon eksternal. Melainkan, di kelas harganya juga tidak ada yang menawarkan fitur serupa. Minus lainnya yakni mikropon yang gampang sember dikala terkena tiupan angin, serta beberapa pengguna yang mengeluhkan debu yang masuk ke lensa. Semoga itu tidak terjadi di kamera saya.

Ya, di bentang harganya yang hampir Rp7 jutaan, Canon G7X mark II jelas tidak murah. Ini kamera saku premium. Anda dapat mendapatkan mirrorless Sony A5000 di bentang harga yang sama. Melainkan, saya konsisten akan memilih G7X mark II sebab kepraktisannya dan kecakapannya memberikan mutu video dan foto sesuai yang saya ekspektasikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *