Sudah tau kah kamu perbedaan khimar, hijab, dan jilbab???

Posted on

http://kartunmuslimah.com/wp-content/uploads/2017/11/kartun-muslimah-Aisyah-binti-Abu-Bakar.jpg

khimar , Hijab, dan jilbab. Ketika kata ini telah tidak asing kembali di telinga kita. Namun sudahkah kita menyadari maknanya dengan benar?

Makna Khimar

Allah Ta’ala mengatakan istilah khimar di dalam firman-Nya:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menghindar pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, terkecuali yang (biasa) nampak berasal dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (QS. An Nuur: 31)

Secara bahasa, khamara bermakna menutupi.

الخاء والميم والراء أصلٌ واحد يدلُّ على التغطية، والمخالطةِ في سَتْر

“kha mim dan ra, asalnya membentuk arti taghthiyyah (menutupi), dan pencampuran suatu hal di dalam menutupi suatu hal yang lain” (Maqayis Al Lughah).

Sedangkan arti khimar secara spesifik, adalah sebagai berikut:

والخِمَارُ للمرأَة، وهو النَّصِيفُ، وقيل: الخمار ما تغطي به المرأَة رأَْسها، وجمعه أَخْمِرَةٌ وخُمْرٌ وخُمُرٌ. والخِمِرُّ

“khimar untuk wanita bermakna kerudung. Sebagian pakar bahasa mengatakan, khimar adalah yang menutupi kepala wanita. Jamaknya akhmarah, atau khumr, atau khumur, atau khimirr” (Lisaanul ‘Arab).

Dalam Tafsir Jalalain, ayat “Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar ke dadanya” dijelaskan maksudnya:

أي يسترن الرؤوس وَالْأَعْنَاق وَالصُّدُور بِالْمَقَانِعِ

“yaitu menutup kepala-kepala, leher-leher dan dada-dada mereka dengan qina‘ (semacam kerudung)”.

Ibnu Katsir mengatakan arti khimar,

يَعْنِي: الْمَقَانِعَ يُعْمَلُ لَهَا صَنفات ضَارِبَاتٌ عَلَى صُدُورِ النِّسَاءِ، لِتُوَارِيَ مَا تَحْتَهَا مِنْ صَدْرِهَا وَتَرَائِبِهَا

“yaitu qina‘ (kerudung) yang punyai ujung-ujung, yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan payudaranya” (Tafsir Ibni Katsir, 6/46).

Ath Thabari juga mengatakan perihal serupa:

وهي جمع خمار، على جيوبهنّ، ليسترن بذلك شعورهنّ وأعناقهن وقُرْطَهُنَّ

“khumur adalah jamak berasal dari khimar, dijulurkan ke dada-dada mereka supaya tertutuplah rambut, leher dan anting-anting mereka” (Tafsir Ath Thabari, 19/159).

Ringkasnya, para ulama mengatakan bahwa khimar adalah kerudung yang menutup anggota kepala hingga dada wanita.

Makna Hijab

Secara bahasa, hijab bermakna penutup.

الحِجابُ: السِّتْرُ

“hijab bermakna penutup” (Lisaanul Arab).

Secara istilah, arti hijab adalah sebagaimana dijelaskan Al Munawi selanjutnya ini:

الحجاب: كل ما ستر المطلوب أو منع من الوصول إليه، ومنه قيل للستر حجاب لمنعه المشاهدة، وقيل للبواب حاجب لمنعه من الدخول. وأصله جسم حائل بين جسدين

“Hijab adalah segala perihal yang menutupi suatu hal yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as sitr (penutup), yakni yang mengalangi suatu hal supaya tidak bisa terlihat. Demikian juga al bawwab (pintu), disebut sebagai hijab dikarenakan menghalangi orang untuk masuk. Asal maknanya, hijab adalah entitas yang jadi penghalang antara dua entitas lain” (At Tauqif ‘ala Muhimmat At Ta’arif, 1/136).

Abul Baqa’ Al Hanafi juga menjelaskan:

كل مَا يستر الْمَطْلُوب وَيمْنَع من الْوُصُول إِلَيْهِ فَهُوَ حجاب

“setiap yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi atau menghalangi hal-hal yang terlarang untuk digapai maka itu adalah hijab” (Al Kulliyat, 1/360).

Maka istilah hijab maknanya benar-benar luas. Dengan demikianlah hijab muslimah, adalah segala perihal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan cuman yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh anggota atas saja. Namun hijab muslimah termasuk semua yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita berasal dari ujung rambut hingga kaki.  Lihat referensi Hijab Bolak Balik

Makna Jilbab

Allah Ta’ala menyebut istilah jilbab di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin supaya hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke semua tubuh mereka…” (QS. Al Ahzab: 59).

Secara bahasa, jilbab berasal berasal dari kata al jalb,

الجَلْبُ: سَوْقُ الشيء من موضع إِلى آخَر

“Al Jalb bermakna menjulurkan / memaparkan suatu hal berasal dari suatu tempat ke tempat yang lain” (Lisaanul Arab).

Sedangkan arti jilbab secara spesifik,

والجِلْبابُ القَمِيصُ. والجِلْبابُ ثوب أَوسَعُ من الخِمار، دون الرِّداءِ، تُغَطِّي به المرأَةُ رأْسَها وصَدْرَها؛.

“Jilbab (diantara maknanya) adalah gamis. Dan jilbab itu adalah baju yang lebih lebar berasal dari khimar, yang tak hanya rida’. Yang dipakai oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya” (Lisaanul Arab).

Demikian secara bahasa. Namun para ulama tidak serupa pendapat di dalam menafsirkan arti ‘jilbab’ di dalam surat Al Ahzab di atas. Dalam kitab Fathul Qadir, Asy Syaukani membawakan lebih dari satu penjelasan ulama perihal jilbab,

قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ

“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah (kain yang benar-benar lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah baju yang menutupi semua tubuh wanita. Sebagaimana di dalam hadits shahih, berasal dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, salah satu kita tersedia yang tidak punyai jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya tersedia berasal dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka terkecuali satu matanya saja, supaya diketahui mereka adalah wanita merdeka supaya tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi 1/2 wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang anggota kening, dan menutupi dengan mudah anggota hidung. Walaupun matanya selamanya terlihat, tetapi jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” (Fathul Qadir, 4/350).

Ibnu Katsir mengatakan:

وَالْجِلْبَابُ هُوَ: الرِّدَاءُ فَوْقَ الْخِمَارِ. قَالَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ، وَعُبَيْدَةُ، وَقَتَادَةُ، وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَعَطَاءٌ الْخُرَاسَانِيُّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ. وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْإِزَارِ الْيَوْمَ

“Jilbab adalah rida‘ (selendang untuk menutupi anggota atas) yang dipakai di atas khimar. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Atha’ Al Khurasani, dan tak hanya mereka. Dan menurut definisi ini maka jilbab itu sebagaimana izaar di zaman sekarang” (Tafsir Ibni Katsir, 6/481).

As Sa’di menjelaskan:

وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن

“Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (Taisir Karimirrahman, 671).

Dari sini, kita dapati para ulama tidak serupa pendapat di dalam memaknai jilbab. Berikut ini lebih dari satu arti jilbab yang bisa kita simpulkan berasal dari penjelasan para ulama:

Jilbab adalah milhafah (kain yang benar-benar lebar)
Jilbab adalah khimar atau al qina’, yakni kerudung untuk menutupi kepala hingga dada
Jilbab adalah baju yang menutupi semua tubuh wanita
Jilbab adalah penutup wajah dan kepala mereka terkecuali satu matanya saja
Jilbab adalah penutup 1/2 wajah wanita
Jilbab adalah penutup kepala dan wajah terkecuali matanya, hingga ke dadanya
Jilbab adalah rida‘ (selendang untuk menutupi anggota atas) yang dipakai di atas khimar

Dengan mengesampingkan persoalan apakah wajah juga aurat yang mesti ditutup atau tidak, secara lazim kita bisa bagi arti jilbab jadi tiga:

Jilbab mirip dengan khimar, yakni kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada wanita.
Jilbab adalah kain yang lebih lebar berasal dari khimar dan dipakai di atas khimar. Artinya, jilbab tidak serupa dengan khimar, supaya ulama yang memaknai demikianlah mewajibkan muslimah disaat nampak tempat tinggal kenakan tiga hal: tsaub (pakaian), khimar, dan jilbab.
Jilbab mirip dengan hijab muslimah, yakni semua baju yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita

Ringkasnya, para ulama khilaf perihal arti jilbab. Kita hendaknya bijak di dalam memaknai dan memakai arti jilbab cocok dengan konteks yang tersedia dan dengan menjunjung khilaf ulama di dalam perihal ini.
Syarat-syarat hijab muslimah

Hendaknya wanita Muslimah yang shalihah tidak cuman menyadari arti hijab, khimar dan jilbab, tetapi juga mempelajari perihal syarat-syarat hijab yang syar’i. Misalnya disaat ia menyadari bahwa keliru satu arti jilbab adalah “kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada” bukan bermakna ia bisa mengenakan kerudung alakadarnya cuman menutup kepala hingga dada sedang hijabnya ketat, transparan, atau tetap menampakkan perhiasan-perhiasan wanita yang harusnya ditutupi.

Maka mesti juga bagi seorang muslimah untuk mempelajari bagaimana syarat-syarat hijab muslimah yang syar’i. Dan sebagaimana telah dijelaskan, hijab termasuk semua baju wanita berasal dari ujung kepala hingga ujung kaki, ini semua hendaknya mencermati syarat-syarat yang ditetapkan oleh syariat.

Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i adalah sebagai berikut:

1- استيعاب جميع البدن إلا ما استثني. 2- أن لا يكون زينة في نفسه. 3- أن يكون صفيقاً لا يشف. 4- أن يكون فضفاضاً غيرضيق فيصف شيئاً من جسمه. 5- أن لا يكون مبخراً مطيباً. 6- أن لا يشبه لباس الرجل. 7- أن لا يشبه لباس الكافرات. 8- أن لا يكون لباس شهرة

“(1) Menutupi semua tubuh terkecuali yang tidak mesti ditutupi (2) Tidak berguna sebagai perhiasan (3) Kainnya tebal tidak tipis (4) Lebar tidak ketat supaya menampakkan wujud tubuh (5) Tidak diberi pewangi atau wangi-wangian (6) Tidak menyerupai baju lelaki (7) Tidak menyerupai baju wanita kafir (8) Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)” (Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani, 394).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *